Tugas mandiri 14 E18 Dava Fernando

Refleksi Integritas dan Kejujuran sebagai Mahasiswa dan Anggota Masyarakat

Integritas bagi saya bukan sekadar kejujuran dalam arti sempit, tetapi kesatuan antara nilai yang diyakini, ucapan yang disampaikan, dan tindakan yang dilakukan, bahkan ketika tidak ada pengawasan. Sebagai mahasiswa, integritas menjadi fondasi utama dalam proses pembentukan karakter intelektual dan moral. Pengetahuan tanpa kejujuran hanya akan melahirkan kecerdasan yang rapuh dan berpotensi merusak. Oleh karena itu, integritas bukan hanya nilai etis personal, melainkan syarat krusial bagi keberlangsungan dunia akademik sebagai ruang pencarian kebenaran.

Dalam konteks kehidupan kampus, kejujuran sering kali diuji melalui situasi yang tampak sepele namun memiliki konsekuensi moral yang besar. Godaan untuk melakukan plagiarisme, titip absen, atau bekerja sama saat ujian sering muncul, terutama ketika tekanan akademik meningkat. Saya menyadari bahwa lingkungan yang kompetitif, tuntutan nilai, serta budaya “asal lulus” dapat mengaburkan batas antara benar dan salah. Salah satu situasi yang pernah menguji integritas saya adalah ketika mengerjakan tugas individu yang tenggat waktunya berdekatan dengan beberapa mata kuliah lain. Akses terhadap karya orang lain sangat mudah, dan secara rasional muncul pembenaran bahwa “semua orang juga melakukannya” atau “hanya sedikit menyalin, bukan sepenuhnya”. Pada titik itulah integritas benar-benar diuji, bukan oleh aturan kampus, melainkan oleh suara hati sendiri.

Keputusan untuk tetap mengerjakan tugas secara mandiri, meskipun hasilnya mungkin tidak sempurna, menjadi pengalaman reflektif yang penting. Saya menyadari bahwa kejujuran akademik bukan hanya tentang menghindari sanksi, tetapi tentang menghargai proses belajar itu sendiri. Jika integritas diabaikan, dampaknya tidak hanya merugikan individu, tetapi juga mencederai kepercayaan dalam komunitas akademik. Kampus yang dipenuhi praktik tidak jujur akan melahirkan lulusan yang terbiasa mencari jalan pintas dan minim tanggung jawab moral. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memperkuat siklus ketidakjujuran di ruang publik.

Fenomena lemahnya integritas tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi juga tercermin jelas dalam kehidupan bermasyarakat. Korupsi yang terus berulang, penyebaran hoaks di media sosial, serta manipulasi informasi di ruang publik menunjukkan bahwa kejujuran sering kali dikalahkan oleh kepentingan pribadi atau kelompok. Integritas menjadi sulit ditegakkan karena adanya normalisasi ketidakjujuran. Ketika pelanggaran etika dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan cerdik, maka kejujuran justru dipandang sebagai kelemahan. Selain itu, lemahnya keteladanan dari elite politik dan publik figur memperburuk keadaan. Masyarakat sulit percaya pada nilai integritas ketika mereka yang berada di posisi kekuasaan justru mempertontonkan perilaku sebaliknya.

Budaya instan dan pragmatis juga berkontribusi terhadap krisis integritas. Dalam masyarakat yang mengagungkan hasil tanpa menghargai proses, kejujuran sering dianggap sebagai penghambat. Penyebaran hoaks, misalnya, menunjukkan bagaimana kebenaran dapat dikalahkan oleh sensasi dan kepentingan tertentu. Banyak orang menyebarkan informasi tanpa verifikasi demi popularitas atau pembenaran pandangan pribadi. Hal ini mencerminkan krisis tanggung jawab moral dalam menggunakan kebebasan berekspresi. Jika ditarik ke akar masalah, praktik ketidakjujuran di masyarakat tidak terlepas dari pembiasaan sejak dini, termasuk di dunia pendidikan.

Sebagai mahasiswa yang kelak akan terjun ke dunia profesional, saya memandang integritas sebagai modal utama yang harus dijaga secara konsisten. Rencana aksi yang akan saya lakukan dimulai dari hal-hal sederhana namun berkelanjutan. Pertama, saya berkomitmen untuk menjunjung kejujuran dalam setiap tanggung jawab profesional, meskipun berada dalam situasi yang tidak menguntungkan. Kedua, saya akan berusaha membangun keberanian moral untuk menolak praktik tidak etis, sekalipun hal tersebut sudah menjadi budaya di lingkungan kerja. Ketiga, saya ingin menjadikan integritas sebagai identitas diri, bukan sekadar tuntutan eksternal.

Selain itu, saya menyadari pentingnya peran aktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kejujuran. Integritas tidak cukup dijaga secara individual, tetapi perlu diperjuangkan secara kolektif. Dalam dunia profesional, hal ini dapat diwujudkan melalui transparansi kerja, akuntabilitas, serta keberanian untuk bersikap kritis terhadap ketidakadilan. Saya percaya bahwa perubahan besar selalu berawal dari komitmen kecil yang dijalankan secara konsisten.

Sebagai penutup, refleksi ini menyadarkan saya bahwa integritas dan kejujuran bukan nilai yang hadir secara instan, melainkan hasil dari latihan moral yang terus-menerus. Tantangan kejujuran, baik di kampus maupun di masyarakat, merupakan cermin dari pilihan-pilihan etis yang diambil individu setiap hari. Sebagai bagian dari masyarakat akademis, saya memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga bermartabat. Menjaga integritas berarti memilih jalan yang mungkin lebih sulit, tetapi lebih bermakna, demi diri sendiri, profesi, dan masyarakat secara luas.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

E18 Dava Fernando

E18 Dava Fernando

Tugas terstruktur 2 E18 Dava Fernando